Selasa, 12 Maret 2013

Membentuk keteladanan

Tuhan menciptakan manusia dengan potensinya masing-masing beserta kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Namun seringkali manusia merasa diri superior dan bisa menentukan arah hidup seseorang. Dia tidak sadar bahwa sikap tersebut, tidak akan membuat orang yang dipaksanya menjadi berhasil seutuhnya. Kalaupun "terlihat" berhasil, namun sebenarnya hatinya tidak nyaman, karena passionnya bukan dibidang yang dipaksakan padanya. Akan tetapi ketika seseorang melakukan suatu keteladanan dan kemudian memberikan masukan pada yang lain untuk menjadi atau melakukan sebagaimana yang dia sarankan, maka ketika orang itu mengikuti sarannya, maka ini bukanlah paksaan tetapi karena lahir dari keinginan meniru keteladanan yang telah dicontohkan padanya.

Setiap orang pasti memiliki seseorang yang menjadi figur keteladanan untuknya. Bisa orangtuannya, saudaranya, gurunya, kakek neneknya, sahabatnya atau siapapun.
Sebagai muslim, keteladanan yang wajib kita tiru adalah keteladanan rasulullah saw. Barangsiapa yang berusaha meniru keteladanan rasulullah saw, pasti hidupnya akan berhasil, baik didunia maupun di akhirat.

Sepengetahuanku, rasulullah saw merupakan pribadi yang santun, bahkan kepada orang yang membencinya, namun juga tegas kepada orang yang memusuhi agamanya. Sifat Santun inilah yang menjadi kekuatan bagi setiap muslim untuk membentuk keteladanan. Dengan sifat santun ini, seseorang akan disayang yang lain.

Sepengetahuanku, keteladanan itu identik dengan tingkah laku sopan dalam bersikap, santun dalam berbicara, selalu tersenyum, pemaaf (bukan pendendam), tenang (tidak terburu-buru), bisa menjaga perasaan orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain, sederhana (tidak pamer), selalu membuat bahagia siapapun, senang bersilahturahmi, suka memberi hadiah walaupun dengan barang yang kecil atau murah, senang bersedekah dan membantu kesusahan orang lain.

Diriku menulis ini, karena menyadari bahwa diri ini masih jauh dari sikap menjadi teladan, sehingga tema ini aku harapkan menjadi inspirasi untuk diriku sendiri, agar aku selalu berusaha menjadi teladan bagi siapapun..

Oleh karena itu adalah pas jika teladan itu disandingkan dengan hadits khoirunnas anfauhumlinnas (bahwa sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi yang lain).

Teladan~bermanfaat~memberi

Artinya ketika kita berusaha memberi apa yang bisa kita bantu, maka artinya kita telah bermanfaat bagi orang lain, dan kita pantas menjadi teladan. Namun dibalik semua itu ada satu hal yang menjadi pembeda, sesuatu dikatakan baik atau tidak, itulah letaknya "niat". Hanya Niat yang tuluslah yanh akan melahirkan keteladanan.

Akhirnya diriku berharap, disisa hidup ini, aku bisa menjadi teladan, minimal bagi diriku dan keluargaku. Walaupun aku menyadari bahwa diri ini tidak sempurna dan masih banyak kelemahanya, sehingga menjadi suatu hal yang pasti Jika tidak semua orang menyukai kita, namun aku harus tetap optimis bahwa niat yang baik akan menghasilkan kebaikan dan dan begitupun sebaliknya.

Ya Allah bimbinglah hamba, amin.